APA YANG KAMU LAKUKAN JIKA MASIH LAJANG
Suatu hari Utbah bin an-Nahhas al-Ajali berpidato sebagai berikut.
“Bagus sekali apa yang difirmankan Allah dalam Kitab-Nya, “Tidaklah kekal orang yang hidup
di atas angan-angan….”
Serta merta Hisyam bin al-Kalbi menyanggahnya seraya berkata:
“Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung tidak pernah berfirman seperti itu. Itu ucapan
penyair Ady bin Zaid.”
“Subhanallah! Aku kira itu firman Allah. Bagus sekali ucapan Ady itu,” kata Utbah sambil
turun dari mimbar.
Pada hari yang lain, seorang wanita dari golongan kaum Khawarij dihadapkan pada Utbah.
“Hai perempuan musuh Allah! Mengapa kamu menentang Amirul Mukminin? Tidakkah kamu
pemah mendengar firman Allah yang berbunyi, ‘Diwajibkan perang.’ Dan perang bagi kita
serta bagi penyanyi-penyanyi perempuan adalah semudah menarik ekor?” katanya sok tahu.
“Yang membuatku menentang Amirul Mukminin adalah sikap sok tahumu terhadap kitab
Allah,” jawab wanita Khawarij tersebut.
Sumber: al-Fihrasat, Ibnu Nadim
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-
Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat
zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat,
tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi
meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia
pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-
Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”
“Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan
untuk segera membatalkan perjalanan”.
“Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
“Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi
menceritakan, “aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian
bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di
tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa”.
“Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “ada seekor burung lain yang dengan susah payah
menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus
memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena
ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.
“Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum
mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
“Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “bahwa Sang Pemberi Rizki
telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari
teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku
sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga”.
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi
sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela
mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu
mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa
kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja
keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang
tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada
tangan di bawah?”
Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam
mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan
mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah
guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat
tertunda.
Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin
Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda, yang artinya: “Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk
makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud
‘alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Suatu hari al-Hajjaj berbekam. Ketika baru saja memulai pekerjaannya, si tukang bekam
berkata, “Senang sekali seandainya Tuan mau menceritakan kepadaku tentang ceritamu
dengan Ibnu al-Asy’ats. Maksudku mengapa ia sampai berani menentangmu?”
“Selesaikan dahulu pekerjaanmu ini. Nanti pasti akan aku ceritakan padamu,” jawab al-Hajjaj.
Berkali-kali tukang bekam itu mengulangi permintaannya. Dan, berkali-kali pula al-Hajjaj
meyakinkan bahwa ia akan memenuhinya setelah selesai berbekam. Begitu selesai berbekam
dan membereskan segala sesuatunya, termasuk membersihkan darah, al-Hajjaj
memerintahkan supaya memanggil si tukang bekam.
“Aku tadi sudah berjanji kepadamu akan mengungkapkan ceritaku dengan Ibnu al-Asy’ats.
Bahkan, aku telah bersumpah segala.” “Baiklah, sekarang akan aku penuhi,” kata al-Hajjaj.
“Terima kasih, Tuan masih ingat,” kata si tukang bekam.
Tiba-tiba al-Hajjaj berteriak memanggil pelayan agar mengambil cambuk. Tidak lama
kemudian si pelayan muncul dengan membawa cambuk. Si tukang bekam disuruh telanjang.
Setelah panjang lebar mengungkapkan cerita dirinya dengan Ibnu al-Asy’ats, al-Hajjaj lalu
menghajar si tukang bekam dengan cambuk sebanyak lima ratus kali, sehingga tubuhnya
babak belur dan hampir mati.
“Aku telah penuhi janjiku kepadamu. Lain kali jika kamu memintaku menceritakan
pengalamanku dengan selain Ibnu al-Asy’ats tentu akan aku penuhi lagi, asal dengan syarat
seperti ini,” kata al-Hajjaj.
Sumber: al-Wuzara, Hilal bin Muhsin al-Shabi’i
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Sari al-Suqthi, seorang ulama ahli ilmu tauhid yang sangat wara’ berkata, “Sudah tiga puluh
tahun lamanya aku selalu membaca istighfar, dan baru sekali ini aku membaca alhamdulillah.”
“Bagaimana ceritanya?” tanya seorang sahabatnya.
“Pada waktu terjadi peristiwa kebakaran di pasar Baghdad, seseorang dengan tergopohgopoh
datang menemuiku seraya memberitahukan bahwa kedaiku selamat. Spontan aku
berucap ‘Alhamdulillah!’ Tetapi, lantas aku menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku
sendiri di atas penderitaan orang banyak.”jawabnya.
Sumber: Al-Wafi bi al-Wafyat, al- Shafadi
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Ketika hendak melepas pasukan yang akan terjun ke dalam medan pertempuran, seorang
jenderal yang dipercaya sebagai komandan menghadap Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Setelah menanyakan tentang keadaan serta persiapan pasukan, Khalifah Mu’awiyah mengajak
si jenderal berbincang-bincang sejenak. Namun tiba-tiba si jenderal mengeluarkan suara
kentut. Seketika itu ia terdiam malu.
“Ayo, mulailah bicara. Demi Allah, aku lebih sering mendengar suara itu dari orang lain
daripada diriku sendiri,” kata Khalifah Mu’awiyah.
Sumber: Ansab al-Asyraf, al-Baladziri
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Di Kufah, Abu Hanifah mempunyai tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja,
menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging
untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar. Selesai makan, ia terus minum tiada
henti-hentinya sambil bemyanyi, dan baru berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk
sekali, kemudian tidur pulas.
Abu Hanifah yang sudah terbiasa melaksanakan salat sepanjang malam, tentu saja merasa
terganggu oleh suara nyanyian si tukang sepatu tersebut. Tetapi, ia diamkan saja. Pada suatu
malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya.
Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia
baru saja ditangkap polisi dan ditahan.
Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya ke istana. Ia ingin
menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang
berkenan menemuinya.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya sang Amir.
“Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir, “
jawab Abu Hanifah.
“Baikiah,” kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan
tetangga Abu Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan
kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada
tetangganya itu seraya berkata,
“Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?”
“Tidak, bahkan sebaliknya.” Ia menambahkan, “Terima kasih. Semoga Allah memberimu
balasan kebajikan.”
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih
khusyu’ dalam ibadahnya setiap malam.
Sumber: Al-Thabaqat al-Saniyyat fi Tajarun al-Hanafiyat, Taqiyyuddin bin Abdul Qadir al-
Tammii
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »